*WELCOME TO MY BLOG . . . PLEASE GIVE REACTIONS AFTER VIEW AND READ MY POST . . . THANK YOU*

Friday, June 23, 2017

Zhiveya

     Ada saatnya ketika kamu merasa hidupmu sama sekali tidak berguna. Semua yang kamu lakukan terasa sia-sia. Bukan, bukan karena yang kamu lakukan memang tidak berguna. Tapi karena tidak ada yang menghargai apapun yang kamu lakukan. Tetapi, entah kenapa, meskipun terasa percuma, kamu selalu melakukan hal yang sama tersebut terus-menerus. Kamu terus berusaha untuk melakukan yang terbaik pada orang lain, meskipun tidak ada yang menghargai itu. Sama seperti yang dialami oleh seorang gadis bernama Zhiveya.

     Semakin lama, hidupnya makin hampa. Makin buruk. Tak ada teman dan tak ada hal yang mampu membuatnya tersenyum. Sampai akhirnya terbersit pikiran untuk mengakhiri semua ini. Bodoh. Tapi memang yang terbersit saat itu adalah mati. Ya, mengakhiri hidup. Memang masalah yang ia alami terlihat begitu sepele. Tidak dihargai. Tidak memiliki teman. Tapi entah kenapa, dua hal sepele tersebut mampu membuat gadis cantik ini ingin mengakhiri hidupnya. Yang terbersit dipikiran Zhi saat itu adalah, "Toh, kalau aku mati, gak akan ada yang peduli". Hal itulah yang membuat ia semakin mantap untuk mengakhiri hidupnya. 

     Beberapa hari setelah itu, ia menjalani hari seperti biasa. Ia tetap berusaha untuk menolong orang-orang di sekitarnya. Biar bagaimanapun, jika ia mati, ia ingin orang lain setidaknya mengingat setitik kebaikan yang pernah ia lakukan saat hidupnya. Walaupun hal itu terasa tidak akan mungkin terjadi padanya, karena apapun yang ia lakukan selama ini tak pernah dihargai oleh orang lain. Ketika ia memiliki seorang teman yang ia kira akan menemaninya dan menjalin canda tawa bersama, ia malah ditinggalkan. Temannya memiliki kebahagiaan yang lebih besar ketika bersama orang lain dibanding saat bersama dengan Zhi. Padahal, Zhi berusaha selalu ada untuk temannya. Apapun akan ia lakukan untuk membahagiakan temannya. Karena, dengan melihat temannya bahagia, ia juga akan bahagia. Klise. Tapi memang itu yang Zhi rasakan. 

     Berusaha untuk lapang dada, akhirnya Zhi merelakan temannya bahagia dengan orang lain. Ia tak ingin membuat orang lain merasa terikat dengannya. Ia tak ingin menjadi beban. Akhirnya, ia kembali pada kesendiriannya. Lagi. Hal itulah yang terus menerus ia alami selama hidupnya yang sudah melewati 20 tahun ini. Memang, perpisahan selalu terjadi dalam kehidupan. Kita tak bisa egois untuk selalu bersama dengan orang yang kita inginkan selama hidup kita. Namun, perpisahan selalu terjadi tanpa meninggalkan satu orang pun untuk menemani Zhi dalam menjalani hidupnya. Tak ada tempat untuk berbagi cerita. Berkeluh kesah. Berbagi canda tawa. Hingga akhirnya ia terbiasa untuk bercerita pada diri sendiri. Mencoba untuk menghibur diri sendiri. Setiap hari, ia selalu menyumbat kedua telinganya dengan headset yang melantunkan lagu-lagu kesukaannya. Terkadang, ia juga memakai masker ketika akan ke tempat ramai. Ia tak ingin orang lain melihat muka muramnya. Ia juga tak ingin berinteraksi. Semua interaksi terasa percuma karena pada akhirnya ia akan sendiri lagi.

     Maka yang dapat ia lakukan hanyalah menolong orang yang membutuhkan bantuannya dan berlalu tanpa berharap orang lain akan melakukan hal yang sama untuknya. Ia sudah tak percaya dengan pepatah, "Jika ingin diperlakukan baik, maka perlakukanlah orang lain dengan baik pula". Itu semua omong kosong. Hal itu tak pernah terjadi dalam hidupnya. Berulang kali ia mencoba untuk bersikap tidak peduli pada siapapun. Namun hal itu selalu gagal. Ia tak pernah tega melihat orang lain dalam kesusahan. Tanpa diminta pun, ia akan berusaha untuk membantu sebisanya. Meskipun ia tahu, orang lain tidak akan melakukan hal yang sama pada dirinya.

     Zhiveya hampir gila karena kesendiriannya. Ia tak pernah berinteraksi dengan orang lain. Tak pernah ada senyum yang muncul dari bibirnya. Ia benar-benar putus asa. Depresi. Tidak ada lagi yang dapat ia lakukan dalam hidupnya. Sampai suatu ketika, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menabrakkan diri pada kendaraan yang melintas di hadapannya. Namun, ketika ia akan melakukan hal itu, ia melihat ada mobil yang hilang kendali mengarah pada seseorang di dekatnya. Ia langsung berlari melindungi orang tersebut, dan mereka berdua terlempar cukup jauh. Orang yang ditolong berhasil selamat, Zhi berusaha untuk bangun dan menghampiri orang tersebut untuk melihat apakah kondisi orang yang ia selamatkan baik-baik saja. Ternyata orang yang ia selamatkan adalah teman yang dulu meninggalkan dia. Zhi tersenyum. Perlahan dari mulutnya yang mengeluarkan darah akibat benturan yang hebat, ia berkata, "Setidaknya aku masih bisa melakukan hal baik pada orang lain untuk terakhir kalinya. Meskipun aku tak bisa mempertahankan arti dari namaku". Pandangannya mulai kabur. Nyawanya tak terselamatkan. Keinginannya tercapai. Akhirnya ia dapat mengakhiri hidupnya. Namun dengan cara yang lebih baik. Zhiveya, nama seorang gadis yang memiliki arti hidup, mati untuk menolong orang lain tetap hidup.